HUKUM OBAT BIUS

HUKUM OBAT BIUS

HUKUM OBAT BIUS

JUAL OBAT BIUS CAIR 087722772227

HUKUM OBAT BIUS – Seorang dokter spesialis bedah di saat melakukan pembedahan membutuhkan ketenangan pasien dan tidak ada gerakan apapun. Yang demikian itu supaya ia dapat melakukan tugasnya dengan benar sesuai dengan apa yang diharapkan. Gerakan-gerakan pasien dan ketidak tenangannya tatkala ia menjalani pembedahan merupakan penghalang terbesar yang menghalangi dokter untuk melakukan tugasnya dengan benar sesuai yang diharapkan. Seorang dokter bedah meskipun tidak menghiraukan gerakan-gerakan pasien dan rasa sakit yang ia rasakan, akan tetapi ia akan cepat menaruh rasa kasihan kepadanya jika rasa sakit yang dirasakan oleh pasien sampai kepada puncaknya. Kita ambil contoh, seandainya seorang dokter tidak menghiraukan pasiennya yang merasakan kesakitan yang luar biasa, maka pasien tersebut akan tidak tenang disebabkan rasa sakit yang ia rasakan.

Ini ada-lah perkara yang yang menyebabkan pasien tersebut akan terus menerus melakukan gerakan-gerakan dan melakukan perlawanan sehingga sang dokter tidak akan dapat melakukan tugasnya de-ngan benar sesuai dengan apa yang menjadi harapan. Kadang-kadang tangan dokter yang sedang memegang alat bedah dengan tidak sengaja menyentuh urat nadi atau anggota badan yang lain dan secara tidak sengaja memotongnya, sehingga hal itu akan menimbulkan bahaya yang lebih besar dari pada bahaya yang ada pada penyakit yang sedang diobati. Oleh karena itu perlu dilaku-kan pembiusan terhadap pasien sehingga ia akan berada pada kondisi dan situasi yang cocok ketika dilakukan operasi pembeda-han kepadanya.

Kebutuhan ini berbeda menurut jenis bedah medis dan tem-patnya dilihat dari segi kedalaman pembedahan tersebut atau kedangkalannya. Contohnya, Pembedahan terhadap jantung tidak akan dapat dilakukan kecuali setelah melakukan pembiusan total terhadap pasien. Bahkan pembedahan terhadap jantung sendiri belumlah sampai pada tingkat resiko tinggi dan kedalaman yang rumit, khususnya dalam operasi pembedahan pada jantung yang terbuka, kecuali setelah berkembangnya dan semakin membaiknya pembiusan.

 

Jenis pembedahan ini dan pembedahan-pembadahan medis lain yang berbahaya, seperti pembedahan pada otak, mata, telinga, dada, perut dan saluran kencing sangat membutuhkan untuk dilakukan pembiusan. Seandainya pembedahan ini dilakukan tanpa adanya pembiusan maka kematianlah yang akan dialami oleh pasien.

Ada juga jenis pembedahan medis lain yang lebih kecil baha-yanya dan memungkinkan seorang dokter untuk melakukan pem-bedahan dengan sukses dalam keadaan sang pasien masih bisa merasakan sepenuhnya, meskipun di sana ada rasa sakit namun ia mampu menahannya dan bersabar tanpa ada perlawananan dan keluhan yang berarti. Jenis pembedahan ini banyak didapatkan pada jenis bedah umum bagian luar yang berhubungan dengan terapi penyembuhan dengan bedah yang dilakukan pada per-mukaan badan pasien.

Dan ada pula jenis pembedahan medis yang ketiga yang dianggap sedang atau pertengahan di antara jenis pertama dan kedua. Yaitu seorang adokter dapat melakukan pembedahan tanpa ada pembiusan terhadap pasien secara total atau lokal. Akan tetapi sang pasien akan merasakan rasa sakit dan kelelahan yang disebabkan pembedahan yang mengharuskannya merasakan kesakitan dan kelehahan yang besar. Contoh jenis pembedahan ini adalah pembedahan yang berhubungan dengan amputasi anggota badan seperti kaki ataupun tangan.

Seseorang dapat menahan rasa sakit yang disebabkan pem-bedahan tersebut, akan tetapi ia tetap merasakan kesulitan dan rasa sakit yang luar biasa, namun pada umumnya tidak sampai ke tingkat darurat.

HUKUM OBAT BIUS

Berdasarkan pada uraian di atas maka kebutuhan kepada pembiusan itu tidak lepas dari tiga kondisi:

Kondisi pertama:

Yaitu kondisi yang tidak memungkinkan melakukan pem-bedahan medis tanpa dilakukan pembiusan, sebagaimana dalam pembedahan jantung yang terbuka dan pembedahan lain yang berbahaya. Dan juga jenis-jenis pembedahan lain yang jika pasien tidak dibius terlebih dahulu maka ia akan meninggal di tengah-tengah pembedahan atau setelahnya dengan jangka waktu yang sebentar.

Kondisi kedua:

Yaitu kondisi yang dimungkinkan melakukan pembedahan tanpa melakukan pembiusan terhadap pasien. Akan tetapi dalam kondisi ini ia akan mengalami kesulitan besar yang tidak menye-babkan kepada kematian dan kebinasaan. Ini adalah kondisi per-tengahan. Seperti pembedahan untuk mengamputasi salah satu dari anggota badannya. sebagaimana yang telah kami kemukakan di depan.

Kondisi ketiga:

Yaitu kondisi yang tidak sampai kepada tingkat darurat (menyebabkan kematian atau kerusakan salah anggota tubuh) dan kebutuhan yang mendesak. Di mana dimungkinkan melakukan pembedahan medis tanpa melakukan pembiusan terhadap pasien. Namun ia akan merasakan sedikit rasa sakit yang ia sendiri mampu menahannya tanpa menimbulkan kesulitan yang berarti. Seperti pada beberapa kondisi pencabutan gigi.

Pembagian kondisi yang tersebut di atas mencakup seluruh jenis pembedahan yang menuntut untuk dilakukan pembiusan, baik total maupun lokal. Akan tetapi pada umumnya kondisi per-tama terjadi pada pembedahan yang menuntut dilakukannya pem-biusan total, berbeda dengan kondisi kedua dan ketiga.

Sebenarnya perhitungan jenis pembiusan itu dan batasannya adalah urusan yang dikembalikan kepada dokter itu sendiri. Ka-rena dialah yang dapat menerapkan ketiga kondisi pada beberapa jenis pembedahan, karena adanya perbedaan berbagai jenis penya-kit dan jenis pembedahan yang harus dilakukan.

HUKUM OBAT BIUS

Jika sudah jelas adanya kebutuhan yang mendesak untuk melakukan pembiusan, maka dapat dikatakan bahwa pembiusan itu boleh dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Jika kebutuhan tersebut sampai kepada tingkat darurat (menye-babkan kematian atau rusaknya salah satu anggota tubuh) maka kebolehannya dapat dianggap sebagai perkara yang didasarkan pada kaidah agama yang berbunyi:

“اَلضَرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ”

“Keadaan darurat membolehkan melakukan perkara-perkara yang dilarang dalam agama.”

Sedangkan jika sampai kepada tingkat sangat dibutuhkan, maka kebolehan melakukan pembiusan dapat adalah berdasarkan pada kaidah agama yang berbunyi:

“اَلْحَاجَةُ تُنَزَّلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ عَامَةً كَانَتْ أَوْ خَاصَةً”

“Kebutuhan itu ditempatkan pada tingkat darurat, baik kebutuhan umum maupun kebutuhan khusus.”

Jika tidak sampai kepada tingkat kebutuhan, maka diper-bolehkan menggunakan sedikit pembiusan, karena didasarkan pada pernyataan para ulama terdahulu yang membolehkan meng-gunakan obat bius dalam pengobatan. Oleh karena itu dibolehkan bagi para dokter melakukan pembiusan kepada pasien dalam rangka memenuhi kebutuhan sebagaimana yang telah dinyatakan oleh ulama-ulama fikih.

HUKUM OBAT BIUS – Disadur dari kitab ‘hukum bedah medis menurut Islam’ oleh Dr. Mukhtar asy Syinqity.

 

Sebagian Jenis Obat Bius Yang Di jual Di Toko On-line :

Tetapi bila bisa saya anjurkan jangan beli obat bius karena bila anda menggunakan nya dan digunakan untuk perbuatan yang tidak mematuhi hukum anda dapat masuk penjara.